Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Days of Our Life

HomeSelamat Datang :)May 1, 2007
Dwipantara adalah nama yang pernah digunakan untuk menyebut Indonesia di masa lalu. Means : fortress between two continents.

Tadinya blog ini adalah catatan episode kehidupan pribadi saya dan sumpah serapah mengomentari ini itu. hehe.
Tapi setelah menikah dan punya calon bayi, saya berpikir untuk mengubahnya jadi space khusus untuk menceritakan kisah kami sekeluarga.
Pinginnya suatu saat bisa dibaca juga oleh anak saya, dan anaknya anak saya :-).

Catatan pribadi & sosial bisa diakses di http://cerita-dwipantara.blogspot.com

So this is our life, family of Lucia Priandarini & Zaliansyah Fitriadi.
Please feel free to read, comment, and share your own story :-)

Blog EntryApr 16, '11 1:04 AM
for everyone
I’ve promised that I won’t make my son as an excuse. Alasan agar saya tidak disuruh keluar kota oleh atasan, alasan kalau saya tidak konsentrasi kerja, alasan kalau saya datang terlambat atau malah tidak masuk kerja kalau anak sakit (meski tentu saja ini bisa dipahami).

Kalau dengan alasan “nggak mau ninggal anak” saya bisa mangkir dari tugas keluar kota, ya semua kantor bisa bilang “Kalau begitu Anda nggak usah kerja setelah punya anak. Lebih baik kami mempekerjakan perempuan single.”

Ya nggak?

Tapi bagaimanapun, tetap saja rasanya seperti patah hati setiap kali bangun dini hari, siap-siap keluar kota. Naik taksi ke bandara bersamaan dengan adzan subuh. Diiringi tatapan tetangga – bapak-bapak – yang sedang berjalan ke masjid. Dilepas lambaian tangan suami yang sedang menggendong anak.

Mungkin ada yang berpikir, “Lho, nggak kebalik tuh?”

Setelah berkumpul dengan teman-teman media lain di bandara, selalu ketemu sih dengan yang senasib. Seorang ibu yang juga bekerja di media dan meninggalkan anaknya ke luar kota. Tapi tetap saja. Tatapan itu. Kata-kata itu. Membuat saya merasa seperti pecandu narkoba yang tertangkap basah.

“Kasihan ya anakmu. Ditinggal terus sama ibunya.”

Mungkin begitu juga perasaan ibu saya dulu saat pergi bekerja.

Saya hanya berharap anak saya akan seperti saya nanti.

Merasa bangga pada ibunya – yang meski tidak sepanjang hari berada di rumah – mencintainya dengan segenap hati.
 

Blog EntryFeb 21, '11 9:44 AM
for everyone
Akhirnya saya menjalani hidup yang dulu saya tolak mentah-mentah. Setelah menikah di usia 25 (padahal tadinya ingin 30tahun), dan melahirkan caesar (padahal maunya normal), dan beberapa hal lain (yang tak terduga maupun sengaja berubah pikiran), akhirnya saya mengambil jalan yang saya kira tak akan pernah saya pilih : BEKERJA KANTORAN.

Dulu saya pernah (sering) menghinadina kaum pekerja 9 to 5 yang sering terjebak macet pulang pergi kantor, harus stay di kantor padahal ga ada kerjaan, atau overload sampai kerjaan harus dibawa dan dikerjakan di rumah, nggak bisa berlibur panjang seenaknya, nggak bisa bangun siang, ngga bisa making money from home.

Dan hell yeah!  Setelah semua hinaan yang saya luapkan, saya end up ikutan nyemplung berenang bersama pasukan berani kena macet yang saya provokasi itu. Semua teman dekat saya langsung ternganga dan berucap “Nggak mungkin!”  

Yah, but life does change.
Sejak punya anak saya jadi nggak bisa kerja di rumah seleluasa dulu.
Deadline lewat melulu. Nggak enak juga sama yang ngasih kerjaan.
Meski di rumah ada 1 housemaid tapi masa iya saya mau ngasih anak saya ke dia sementara saya mengunci diri ngetik di kamar.


Di sisi lain kami (saya dan suami) “girang” melihat angka fantastis dana pendidikan anak (dan lain-lain) yang harus kami siapkan. Sementara karena rumah masih kontrak, jadi ada 10 juta yang melayang setiap tahunnya untuk sewa rumah (well, baru 2 tahun sih. Tapi nggak mau ah lebih dari 2 tahun).
Sementara (lagi), meski umpamanya saya masih bisa freelance, penghasilan saya itu nggak akan bisa dihitung sebagai join income suami istri kalau kita akan mengajukan KPR. Mau bergantung ke pendapatan suami aja jelas nggak mungkin untuk sekalian nyicil beli rumah. Terus sampai kapan mau hidup di sangkar “emas” bernama kontrakan ini? (Saran saya ya...jangan nunggu nikah kalau mau beli rumah. Kalau ada rejeki ya beli pas masih single aja! Ngga usah peduli nasihat2 yang belum tentu sesuai dengan konteks masa sekarang)

Jadilah saya untuk pertama kalinya memakai ijazah dari almamater tercinta saya untuk melamar kerja.

Setelah lolos dari jebakan gaji UMR di sebuah penerbit, di media kedua (majalah) saya langsung ho’oh aja setelah tahu gaji, lokasi, dan jobdesk saya yang lumayan pas.  Setelah saya tandatangan kontrak ada 1 kantor lagi sih yang sempat memanggil. Tapi saya langsung tahu bahwa saya ngga cocok di sana karena  pewawancaranya membuat saya merasa seperti sedang sidang skripsi. Bahkan membuat saya tampak jadi ibu yang tidak bermoral dan tidak punya hati karena berniat meninggalkan anak saya (yang sekarang usianya  5 bulan) untuk bekerja.

Setelah seminggu masuk kerja, ternyata kerja kantoran itu memang nggak seenak freelance ya. Hehe. Tetep. Tapi yah demi join income beli rumah, saya kerja “santai” tapi beres saja.

Oya, baca bukunya Ligwina Hananto “Untuk Indonesia yang Kuat” juga bikin semangat. MALU kalau udah nikah belum juga punya rumah!


PS : jangan ditanya bagaimana perasaan yang hancur lebur meninggalkan anak di rumah. Rencana jangka panjang teteeep : working from home. Our very own home.

It’s Iack of friendship that makes an unhappy marriage. Not lack of love.
(somewhere in a book I read)

Dulu saya sering banget menyumpahi diri sendiri bakalan nikah setelah 30, atau bahkan melajang selamanya. Sampai-sampai pernah punya semboyan “I think, therefore I’m single.”:-D
Tapi tentu saja kalimat mutiara itu hanya saya banggakan saat  saya memang sedang single (secara de jure ataupun de facto, if you know what I mean :-D). Di saat sedang tidak ingin single, tentu saya bertanya-tanya (pastinya dalam hati, ja’im sama yang pernah saya teriakin saya bakal nikah umur 30), siapa dan di mana cari orang yang (khilaf) yakin sama saya dan saya yakini bisa hidup sama-sama seumur hidup.
Sekarang sih kalau dipikir-pikir, sebenarnya proklamasi lajang saya itu lebih karena saya belum ketemu orang yang tepat saja. Ditambah ketakutan akan kebosanan dan rasa terkekang. Kesimpulannya, harus ada seseorang yang lebih besar daripada semua kekhawatiran dan egoisme saya sendiri.
Dan orang itu datang saat usia saya 25. Orang-orang yang sealiran dengan saya dalam hal melajang langsung bertanya-tanya, how come? How did it happen? How did you know that he’s the one?
I just…knew it. Seperti pulang ke rumah yang nyaman. Seperti betah bercermin tanpa merasa perlu membenahi apapun. Seperti mendengar bunyi klik dari dalam hati.

Now it’s been a year since we build the life of ours.
Happy anniversary from us to us




Blog EntryNov 25, '10 2:48 AM
for everyone
Hijrah sebentar ke rumah saudara di Karawaci. Karena saudara saya ini lagi naik haji, jadi ia minta saya dan suami jaga rumah & 2 anaknya selama sebulan. Untung anaknya udah gede-gede (kelas 4 SD & 1 SMP). Kalau nggak, bisa pingsan ngurusin bayi saya & mereka juga.

Jadi ingat pas saya seumuran mereka dulu. Tapi pastinya beda generasi, beda "gaya" juga. Anak-anak sekarang tuh jam belajarnya jauh lebih panjang. Lebih banyak pula yang mesti dipelajari. Sekarang anak SD aja udah bisa bikin program komputer sendiri, bisa dasar-dasar bahasa Inggris, Arab, Mandarin. Ponakan saya yang kelas 4 SD belajar di sekolah dari jam 7 sampai jam 4 sore. Yang SMP berangkat subuh (karena sekolahnya jauh), dan sampai rumah setengah jam sebelum maghrib.

No wonder sampai rumah, si kelas 4 SD langsung lempar tas dan lari lagi keluar rumah, main bola sama anak tetangga. Malamnya bukannya belajar, malah main Nintendo DS (nih barang dia bawa ke mana pun). Yang SMP, begitu sampai rumah buka laptop. Bukan ngerjain PR, tapi chat sama teman-temannya.

Don't blame them for these.
Kalau saya jadi mereka kemungkinan besar saya juga akan melakukan hal yang sama. Apalagi sekarang persaingan nilai di sekolah kan gila-gilaan. Bisa gila beneran kalau nggak menghibur diri sendiri.
Saya tetap percaya tuh kalau mereka bakal jadi orang-orang hebat.


Suatu sore pas lagi nonton TV, saya mendengarkan 2 keponakan saya ini berceloteh mengomentari berita di TV :

Adik : "Kakak percaya nggak kalau SBY bakal gantiin
           sapi orang-orang di Merapi?"

Kakak : "Enggak."
Adik : "Aku juga enggak."

Jegerrrr! Nih anak-anak sudah punya opini sendiri tentang masalah sosial politik. Saya terbengong-bengong. Mencoba mengingat-ingat topik pembicaraan saya dengan kakak saya saat saya masih kelas 4 SD. Pastinya nggak ngomongin Soeharto.


Blog EntryOct 15, '10 4:55 AM
for everyone
Balada C-sect
Hal terburuk pertama dari melahirkan dengan operasi sesar adalah : tertawa pun rasanya sakit! Yang kedua tentu saja adalah tidak bisa langsung lancar beraktivitas. Yang ketiga…bagian yang menyebalkan dan sering hanya bisa dipendam sendiri adalah : kerutan dahi dan tatapan “kasihan” (semoga hanya perasaan saya saja) dari orang-orang (terutama ibu-ibu) yang pernah melahirkan normal. Dari mulai pertanyaan “Lho, kenapa kok sampai sesar?” sampai ke pernyataan “Ah! Pasti ini dokternya yang mau sesar. Padahal harusnya bisa normal!”

Lha…kok situ tahu harusnya bisa normal? You weren’t even there at the time. Kebanyakan orang memang mengira bahwa si dokter punya banyak tempat praktek (dan pasien) sehingga untuk mempercepat kerjanya, jadi semua disesar saja. Padahal dalam kasus saya, jelas-jelas sepanjang rentang waktu 26 jam itu si dokter menunggui saya (sambil bolak balik ke pasien-pasien lain pastinya) untuk berusaha melahirkan normal. Pas di ruang operasi sempat dengar salah satu perawat bertanya ke si dokter, “Dokter udah makan?” Dokter : “Udah sih… Tadi pagi!” (padahal saat itu sudah hampir jam 9 malam).
Ya sudahlah ya. Senyum aja kalau ada yang lagi-lagi bilang harusnya bisa normal.

Eh tapi ada juga yang lucu. Orang yang nggak tahu kalau saya habis melahirkan dengan operasi pasti mengira saya BELUM melahirkan. Masalahnya, gara-gara baru bisa pakai gurita (/stagen/bengkung) setelah perban di jahitannya dibuka & dinyatakan benar-benar kuat, jadilah perut yang masih besar ini memang tampak seperti masih “ada isinya.” Ke mana-mana masiiih aja ditanya, “Sudah berapa bulan, Mbak?”
Capek deeehhh…

Babyblues!
Dua minggu pertama sejak pulang dari RS, saya nangis bombay terusss. Babyblues kali yaaa. Perasaan campur aduk. Dimulai dari malam saat kadar bilirubin baby Bima 12 (normal 10). Saya deg-degan setengah mati saat sekilas melihat matanya yang agak kuning. Langsung malam itu juga Bima disinar. Meski dibilang bayi kuning itu wajar, tetap aja was-was.

Perasaan hancur lebur berlanjut setelah pulang dari RS. Sejak lahiran sampai kira-kira 3 minggu setelahnya, saya & suami memang belum pernah tidur nyenyak lebih dari 2 jam setiap hari. Padahal saya sangat anti begadang. Kalau malamnya kurang tidur, rasanya besoknya kayak mau bunuh orang (lebay).

Secara psikologis, merasa khawatir nggak mampu ngerawat si bayi. Apalagi setelah mama pulang ke Malang, otomatis saya sendirian sepanjang hari menjaga baby Bima (si ayah paling cepat pulang jam 7 malam). Belajar mengerjakan semua hal dengan cepat begitu si Bima tidur. Mandi pun selalu was-was, khawatir tiba-tiba dia nangis pas saya lagi mandi.
Dan yang terberat ternyata adalah menyadari bahwa semua hal tak akan sama lagi setelah Bima lahir. Karena nggak ada yang bisa dititipin bayi, jadi nggak bisa bebas ke mana-mana lagi untuk rentang waktu cukup panjang. Kadang sempat kesal juga sama suami, bertanya-tanya kenapa perempuan aja yang mesti merasa sakit fisik & psikologis  begini. Pingin teriak “Hey! Need some life here!” Baru sadar bahwa saya sudah menyiapkan begitu banyak hal untuk si bayi – secara materi – tapi lupa menyiapkan mental saya sendiri.

Tanggal 22 September, seminggu setelah lahiran, tali pusarnya si Bima puput juga. Sorenya entah kenapa jahitan sesar di perut terasa agak perih. Ternyata ada darah yang merembes keluar dari perban. Hadooohhh! Saat perban dibuka, ternyata si dokter yang memeriksa langsung panik dan manggil dua perawat yang kemudian dengan heboh melakukan ini itu pada jahitan sesar saya. Jadilah bonus bedrest lagi.
Di hari yang sama, pertama kalinya memeriksakan Bima ke dokter spesialis anak untuk imunisasi pertama. Si Bima nangis kencang pas disuntik. Tapi cuma lima detik. Setelah itu bobok lagi. Pulas. Enaknyaaa jadi bocah.


The Urban Mama & else

Akhir September, editor majalah tempat saya freelance dengan riangnya menelepon, tanya apakah saya bisa mengerjakan satu artikel (padahal tahu saya baruuu aja lahiran). Tapi saya terima juga, dengan pertimbangan masih ada mama yang bisa handle si kecil. Ternyata kerjaannya menyenangkan juga. Saya jadi bisa ngobrol (via online of course) sama founder The Urban Mama & Mommiesdaily. Setuju banget sama tagline Urban Mama : There’s always a different story in every parenting style. So don’t ever judge gaya parenting orangtua lain.
Dan karena alasan itu saya menghapus salah satu tulisan saya terdahulu : Anak Susu Kaleng. Baru sadar bahwa itu tulisan yang sangat kejam & judging. Maaf ya, yang kebetulan membaca tulisan itu (dan juga tulisan ini) & sempat merasa tidak nyaman.
Sempat kenalan juga dengan pemilik situs tatterscoops. Salut sama kejujurannya nulis kisah hidupnya apa adanya, termasuk perceraiannya. Dulu saya pikir semua orang yang bercerai itu egois & easily give up. Padahal saya juga nggak akan pernah tahu apa saya akan mengambil langkah berbeda jika saya ada di posisi mereka.

Mom & Jo Spa
Kamis, 7 Oktober, pertama kalinya keluar rumah sendirian sejak lahiran. Dapat voucher free perawatan di Mom & Jo dari majalah Fit Pregnancy. Mumpung mama masih dua hari lagi di Jakarta, jadi buru-buru ke sana. Baru berangkat udah kepikiran si Bima. Gini ya rasanya jadi ibu.
Perawatannya biasa aja (padahal super duper muahaalll). Yang menarik cuma ngobrol-ngobrolnya aja sama mbak-mbak yang massage. Si Mbak ini punya anak umur 2 tahun. Jam kerjanya dari jam 9 pagi sampai 9 malam. Jadi anaknya sepanjang hari dititipin tetangga. Dalam seminggu dia cuma dapat libur sehari. Bayangkan gimana rasanya pulang pergi kerja tiap hari dari anak tidur sampai tidur lagi.
Hmm…welcoming myself to the motherhood journey.


Blog EntryOct 13, '10 4:42 AM
for everyone
Kalau membaca pregnancy journal saya yang (agak) heboh, kemungkinan besar orang akan mengira proses persalinan saya berjalan tenang, lancar semulus jalan tol. Well, setidaknya saya merasa sudah maksimal mempersiapkan segalanya supaya demikian. Kenyataannyaaa…terbalik 180 derajat.

Seperti kedatangannya yang tak terduga dalam rahim, begitu juga proses kelahiran anak saya. Dimulai dengan berita bahwa dokter yang saya & suami percayai selama 38 minggu kehamilan tiba-tiba cuti libur lebaran hingga beberapa minggu (bayangkan harus belajar lagi mempercayakan nyawa saya dan bayi pada seorang dokter baru). Syukurlah dokter penggantinya ternyata jauh lebih sabar dan teliti daripada dokter lama yang sedang berpesiar.

Flek yang ditunggu-tunggu (tanda sudah terjadinya proses persalinan/ bukaan) datang tepat di hari saat cek ke dokter pada usia kehamilan 40 minggu, Selasa, 14 September 2010 malam. Pertama kalinya merasakan “periksa dalam.” Maknyuss. Dokter bilang sudah bukaan 1 & menawarkan apa mau langsung dirawat inap. Tapi sesuai cita-cita, saya maunya baru rawat inap kalau sudah bukaan 5 ke atas. Alasannya ya biar nggak frustasi aja lama-lama di RS. Jadilah malam itu pulang lagi ke rumah. Disambut celoteh khawatir mama yang mempertanyakan kenapa nggak langsung masuk RS aja.

Malamnya masih bisa twitteran, BBM-an sama beberapa teman & ketawa-tawa sama suami. Tapi nggak bisa tidur. Jam 3 dini hari, merasa kok sakitnya udah mulai agak mengintimidasi. Akhirnya membangunkan suami yang langsung kebingungan mesti naik apa ke RS pagi-pagi buta. Lari ke tetangga sebelah yang punya mobil). Akhirnya jam 4 pagi kami (plus mama, bapak tetangga sebelah dan anak perempuannya) ke RS. Masih kuat jalan kaki ke ruang observasi. Pas diperiksa dalam(lagi), kecewa berat karena ternyata bukaannya masih belum nambah (masih di bukaan 1). Alhasil pulang lagi.

Melewati pagi sampai siang dengan menahan sakit di tempat tidur di kamar. Meski dibilang “tidur aja, biar kuat nanti sampai bukaan lengkap,” tapi tetap nggak bisa tidur. Makan aja susah (apalagi jalan kaki, seperti yang disarankan, untuk mempercepat proses bukaan). Jam 11 siang ke RS lagi. Bukaan (masih) empat. Masih bisa ngobrol sama ibu-ibu yang kebetulan juga ada di ruang observasi, sambil meratapi “tempat tidur” di situ yang super slim dan keras (ya iyalah, emang bukan hotel). Di bilik sebelah ada ibu hamil yang baru jatuh dan ternyata harus kehilangan bayinya karena kehamilannya di luar rahim. Sayup-sayup terdengar isak tangis si calon ibu & beberapa keluarga. Sementara di bilik sebelahnya lagi ada perempuan yang akan operasi pengangkatan kista di rahimnya. Jadi bersimpati & lupa sakitnya sebentar.

Proses bukaan saya ternyata berjalan sangat lambat, bahkan setelah diinduksi. Bukaan 4 pada jam 11, hanya bertambah 1 cm lagi pada pukul 3 sore. Sudah mulai tak bisa menahan suara rintihan yang keluar dari mulut. Suami yang saya harapkan menenangkan & mengingatkan saya untuk mempraktekkan terknik pernapasan yang diajarkan di kelas senam hamil & hypnobirthing ternyata “cuma”bisa bengong melihat saya. Sesekali mengurut punggung & panggul yang aduhai nyerinya. Ya sudahlah, mau gimana lagi. Pastinya dia juga nggak kalah panik & kasihan melihat saya.

Bolak balik diperiksa dalam, tetap aja rasanya pingin lari setiap kali si dokter/perawat sudah pakai sarung tangan siap-siap mengecek sudah bukaan  berapa. Sampai pukul 5 sore, sedikit lega karena sudah bukaan 8. Sakitnya sudah hampir tak ada jeda. Rintihan sudah nyaris jadi teriakan. “Sabar ya Bu, paling 2 jam lagi sudah bukaan lengkap,” kata si dokter. Suami  baca Quran.

Jam 8 diperiksa dalam lagi. Sudah menunggu-nunggu si dokter bilang “Oke, sudah bukaan lengkap” dan saya dipindah ke ruang bersalin. Ternyata tidak! Dokternya berdiskusi sebentar sama suami & dua perawat lain. Kata-kata yang sempat tertangkap cuma “kepala bayinya masih di atas, nggak mau turun. Posisi bayinya nggantung,” “ini udah minggu ke-40,”“masih tetap di bukaan 8,” “ibunya udah lemas banget.” Dan akhirnyaaaa…”Sesar ya, Pak. Silakan bicarakan dulu dengan keluarga.”
Suami saya melihat pada saya yang (sepertinya) memang sudah super pucat & lemas. Dan tanpa pikir panjang mengiyakan. Saya : setengah senang,setengah tidak. Senang karena akhirnya saya tahu kapan si bayi akan lahir. Tidak karena ingat berbagai “kerugian” melahirkan dengan operasi.

Come what may lah…

Jam 20.45, di ruang operasi, tau-tau seorang perawat mengangkat & mendekatkan sesosok bayi ke samping saya. “Ibu, ini anaknya sudah lahir!” Si  perawat membawa sesosok bayi yang menangis kencang sambil memasukkan kepalan jari-jarinya ke mulut. Saya : terbengong-bengong. Jelas ini bukan proses persalinan impian saya. Inisiasi menyusui dini pun gagal dilakukan karena badan saya menggigil kedinginan. Yang masih berjalan sesuai rencana “hanya” tugas suami saya membisikkan adzan ke telinga bayi kami. Kata suami saya air ketuban saya sudah hijau saat dibuka, karena usia kehamilan sudah tua. Syukurlah bayi kami tak apa-apa.

Di ruang pemulihan, berbaring sebelahan sama seorang ibu yang tadi ada di bilik sebelah di ruang observasi. Bayinya kurang dari 2 kg & air ketubannya sudah kering. Jadi disesar juga. Tapi dia baru bukaan 1 saat dokter memutuskan sesar. “Lho Mbak. Bukannya tadi udah bukaan 8? Sesar juga akhirnya?” si ibu ini bertanya. Saya mengangguk lemas. Setelah saya hitung, ternyata dibutuhkan waktu 26 jam persalinan mulai dari bukaan 1 – 8 saja! (dan diselesaikan hanya dengan ½ jam sesar) Meh!

By the way, nama anak kami Ramadhan Satria Bima. Tetap diberi nama Ramadhan meski lahirnya terlambat, baru lahir setelah lebaran. Simply karena kami malas mencari-cari nama lagi (masa’ mau diberi nama Syawaludin)





Bersambung ke “ketidaksempurnaan” lain.


A Confession before The Baby’s Coming Out

Sepertinya ada yang salah (setidaknya menurut saya). Orang menghabiskan waktu berbulan-bulan dan uang puluhan, bahkan ratusan juta rupiah untuk menyelenggarakan sebuah acara bernama pesta pernikahan – yang umumnya hanya berlangsung satu – dua hari. Tapi berapa lama dan berapa besar dana (juga mental dan pengetahuan) yang dipersiapkan untuk menyambut kelahiran seorang bayi yang akan menjadi tanggungjawab seumur hidup? Seadanya. Sekedarnya. Semampunya. Nanti-nanti saja, nunggu Tuhan yang ngasih. Masih banyak waktu.

Well-prepared
Saya adalah orang yang akan dengan tulus mengucapkan selamat pada teman-teman sudah menikah beberapa lama tapi belum punya anak. I’d say, “Hey, good for you! Kalian masih diberi waktu untuk mempersiapkan semuanya!” (meski biasanya akan dibalas dengan tatapan yang menyiratkan : “ah, orang ini hanya mencoba menghibur” atau “kamu kan sudah akan punya bayi. tak mungkin mengerti perasaan kami”).

Tapi sungguh, saya sangat mendukung pasangan yang memutuskan menunda kehamilan karena berbagai alasan (yang positif).  Menurut saya itu sama sekali bukan berarti menolak pemberian Tuhan (berupa anak). Justru karena menganggap bahwa ini adalah peristiwa mahapenting, jadi kedatangan seorang manusia – titipan Allah –seharusnya memang  dipersiapkan dengan matang
(well, tapi dengan bodohnya kami tidak ber-KB sejak awal karena mengira si bayi masih lama datang).

That’s why, our “we’re gonna have a baby moment” is so unlike what you usually saw in common dramas. Tidak ada teriakan gembira, air mata bahagia, sujud syukur, atau juga lompatan sorak sorai. Yang ada adalah wajah pucat saya dan tatapan kosong suami memandangi testpack yang menunjukkan dua garis merah.

Kami baru menikah beberapa minggu, dan kebetulan adalah tipe orang yang merencanakan segala sesuatunya jauh-jauh hari. Sejujurnya, kata “bayi” sama sekali belum tertulis dalam rencana jangka pendek kami. Momen testpack  itu datang saat kami sedang gencar-gencarnya ke sana kemari mensurvey harga rumah dan menghitung berapa penghasilan ideal yang harus kami capai agar semua kebutuhan dasar bisa terpenuhi dengan baik. Dalam otak kami, urutannya adalah : 1. Rumah - 2. Mobil (karena tak ingin membawa bayi kami di atas roda dua - di bawah terik matahari Jakarta, atau berjejalan dalam kendaraan umum) - 3. Anak. Kami hanya ingin si bayi datang ketika semua yang ia butuhkan sudah siap.

Ternyata bayi kami mau ada di urutan pertama.

Dan dimulailah masa-masa penuh emosi negatif,  yang secara tidak adil selalu
saya tumpahkan pada suami saya. Apalagi beberapa bulan kemudian pernikahan kami masih akan dirayakan lagi di kota asal suami dengan jumlah undangan, dan tentunya budget yang konon tiga kali lebih besar daripada saat pernikahan kami di Malang. Oh pleeaasseee… itu jumlah dana yang sama dengan yang dibutuhkan untuk pendidikan anak kami minimal dalam dua-tiga tahun pertama. Kami tidak menyalahkan budaya ataupun orangtua di Sumatra yang memilih menyelenggarakan acara itu. Hanya saja jika anak kami menikah nanti, kami pasti akan mengambil jalan yang berbeda dari mereka.

Grew-up
But everything happened for a reason. Ternyata dalam rentang waktu sembilan bulan ini, bukan cuma bayi kami yang tumbuh dan membuat perut saya semakin besar. Kami juga bertumbuh. Sepanjang hidup saya, ini adalah masa saat saya terpaksa belajar banyak hal yang tak mungkin bisa dipelajari dalam keadaan senang dan tenang, tapi harus dalam situasi (yang tampaknya) buruk dan tidak menyenangkan. Ada saat-saat saya dan suami saya berpelukan dan menangis. Saling minta maaf telah melontarkan kata-kata yang tak seharusnya diucapkan. Di saat lain kami menangis karena baru menyadari bahwa kami terlalu banyak mengeluh padahal tak terhitung hal yang harus disyukuri.

My eyes were burst into tears saat dokter pertama
kali memperdengarkan musik paling indah yang pernah ada : suara detak jantung bayi kami, memenuhi ruangan. Ada dua jantung berdetak dalam tubuh saya. Ada sebuah kehidupan yang tak mungkin salah tempat. Bagaimanapun, kehidupan kecil itu tidak bersalah karena datang lebih dulu dari perencanaan egois kami.  Tuhan memilih kami dan memilih sekarang untuk membawa ciptaan-Nya yang satu itu ke dunia. That’s the very first  moment I embrace our child in my heart.

These last weeks, setiap hari kami bertanya pada si bayi dalam perut : “Kapan kamu keluar, Nak… Semua sudah siap…” Dan seperti biasa dia hanya menggerakkan kakinya ke kanan kiri, memaksa kami belajar lagi untuk sabar, dan menyadari bahwa ada waktu yang tepat untuk setiap peristiwa yang ada di luar kendali kami. Tidak selalu sesuai rencana, tapi selalu yang terbaik.


Blog EntryMar 8, '10 9:16 PM
for everyone
Dengan tidak mengurangi rasa kagum dan hormat saya pada yang bersangkutan

Bagi saya, ada yang ironis dari Mbak Trinity, penulis Naked Traveler, salah satu buku favorit saya. Beliau sudah mengunjungi hampir semua provinsi di Indonesia dan 42 negara, juga kenal dengan banyak backpacker dari seluruh dunia.

Tapiii…di halaman 168 Naked Traveler 2, saat akan membuat Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) beliau bercerita :
“Terus terang seumur hidup saya tidak pernah tahu siapa Ketua RT saya. Siapa tetangga saya saja, saya tidak tahu namanya karena kalau bertemu kami hanya melemparkan senyum. Besoknya saya minta diantar pembokat untuk berkenalan dengan para pejabat lingkungan tempat tinggal saya, secara pembokat saya itu anak gaul dan ngetop.”

Walah! Kenal dengan banyak orang di negara lain, tapi ngga kenal sama tetangga sebelah rumah sendiri 

Blog EntryMay 7, '09 6:32 PM
for everyone

“Ke mana Rin?”

“Ke bank…ngurus ATM,” jawab saya tak bersemangat.

“Ngapain?”

“Ke-blokir… Lupa PIN…” kata saya lirih. Berharap tak didengar.

“Hah?! Lagi? Hahahahaha…” Si penanya menertawakan saya sampai

 puas.

Saya cemberut.

Dalam setahun sudah 4 kali saya mengalami hal yang sama :

lupa nomor  PIN.

Sungguh bodoh tak terperi.

Tampak agak keren memang diwakili dengan sederetan angka sehingga  punya akses ini itu dan teridentifikasi sebagai manusia urban. Tapi bagi orang pelupa kronis seperti saya, ini sungguh merupakan tantangan berat.

Semakin hari semakin banyak saja kode dan nomor yang harus dimiliki dan (kadang harus) dihapal. Bermula dari nomor KTP di usia 17, lalu nomor HP, NPM, No.SIM, kemudian nomor rekening, dilanjutkan User ID, nomor PIN, nomor password, nomor polis asuransi. Belum lagi punya orang serumah : nomor speedy, no pelanggan tv kabel, dan tentu saja nomor rekening listrik, air, telepon.

“Silakan Mbak, pilih nomor PIN 6 digit. Jangan tanggal lahir. Kalau bisa dibedakan dari PIN ATM,” kata si mbak costumer service saat saya apply SMS banking. Saya mengangguk-angguk sambil berpikir keras kombinasi angka apa (lagi) yang akan saya gunakan.

“Lalu semua PIN jangan disimpan di HP atau di dompet,” katanya

lagi.

Anjuran terakhir ini memang sangat baik,

but not good enough untuk orang seperti saya.

Akan ada saat saya ke ATM hanya berbekal dompet dan HP.

Lalu entah kenapa saya tiba-tiba bisa betul-betul lupa berapa

kombinasi angka PIN saya.

Tak rela perjalanan ke ATM sia-sia, dengan kreatif (atau bodoh?) saya

mencoba memasukkan beberapa angka.

Setelah kali ketiga saya baru sadar saya telah memasukkan angka PIN

fasilitas lain.

Alhasil… terblokir.

 

Seorang manager on duty yang ternyata memperhatikan saya dari jarak 1,5 meter di belakang, menghampiri dan memandang saya dengan tatapan kasihan, lalu berkata, “Silakan ke costumer service, Mbak…”

         


Blog EntryApr 22, '09 2:12 AM
for everyone

Para pedagang pasar tradisional di kota kecil saya, Malang, tidak begitu khawatir saat sebuah hipermarket modern pertama berdiri. Orang-orang seperti ibu saya hingga sekarang tetap setia berbelanja di pasar tradisional. Padahal pasar tradisional terdekat berjarak satu kali naik angkutan umum, sedangkan hipermarket baru itu bahkan bisa dicapai dengan jalan kaki dari rumah saya.

Betapapun saya menyebut hipermarket sebagai one stop place untuk belanja hampir semua barang, ibu saya selalu mencibir setiap saya mengajak beliau ke sana. Ibu saya selalu menemukan alasan untuk tidak pergi ke sana, seperti : sayur dan buahnya penuh pestisida, bangunan mall-nya  berdiri di atas lahan sengketa, takut naik escalator, sampai berita di televisi tentang hipermarket yang ceroboh menjual produk yang sudah kadaluarsa.

Well…meski bukan ketua asosiasi pedagang pasar seperti Prabowo, tentu saja saya juga tidak setuju jika perputaran uang dikuasai pemilik hipermarket-hipermarket saja dan meminggirkan pedagang tradisional (ngomong-ngomong keluarganya Prabowo belanja di pasar tradisional juga gak ya?).

Tapi sayangnya saya sendiri tak bisa memungkiri bahwa saya lebih memilih untuk berbelanja di supermarket dibanding di pasar tradisional. Bukan karena supermarket itu full AC, sedangkan pasar tidak. Bukan juga karena harga atau jaraknya yang dekat dari rumah. Tapi karena beberapa alasan konyol berikut :  

-         Saya tidak pintar berbahasa jawa selain ngoko (tingkat paling kasar). Karena itu pasar tradisional yang mengharuskan saya menawar harga dan berinteraksi dengan pedagang dalam bahasa sedikit lebih sopan, jelas membuat saya kikuk. Lagipula, saya tak tahu berapa harga yang “pantas” untuk setiap bahan makanan. Pun saya bukan tipe orang yang pandai menawar.

Jadi karena alasan di atas, saya memilih belanja “dalam diam” di super/hipermarket. Tinggal mengambil barang, melihat harga dan memilih mana yang murah, bayar ke kasir. Toh mbak-mbak pramuniaga cantik itu juga pasti akan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan costumernya.

-         Selain itu, kadang saya bahkan tak tahu bentuk sebuah bahan makanan seperti sayur atau bumbu dapur tertentu. Atau sebaliknya, saya tahu bentuknya, tapi tak tahu namanya. Saya pernah berbelanja di pasar tradisional seorang diri dengan hanya menunjuk bahan yang saya maksud. “Beli ini, beli itu” kata saya. Merasa konyol. Uh…saya tak mau mengulanginya lagi.

Maka belanja di hipermarket memungkinkan saya untuk mengambil apapun yang saya mau, sekaligus belajar mengenali nama-nama sayuran seperti “timun suri” atau “kecipir,” lewat tulisan yang tertera.

 

Dasar anak jaman sekarang…

 


Blog EntryFeb 6, '09 7:46 AM
for everyone
Timbanglah jiwamu sebelum tiba waktunya perbuatanmu ditimbang.

Buatlah perhitungan dengan dirimu sendiri sebelum kau dipanggil

untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu selama di dunia ini.

Berbuatlah yang baik dan suci.

Tempuhlah jalan yang lurus dan benar sebelum jiwamu meninggalkan bumi.

Sesungguhnya jika tak kau bimbing dan peringatkan dirimu sendiri,

tak ada seorang pun yang bisa membimbingmu.

(Sepotong khotbah Khalifah ‘Ali yang dihimpun Ibn Khalikan,

salah seorang keturunannya, dicetak di Tabriz, 1299 H).

Pada milad saya yang ke-25, saya pulang ke Islam...

Jika ada yang bertanya mengapa, secara garis besar jawabannya adalah karena memang sudah seharusnya demikian... berserah pada Allah.

Penjelasan versi panjang, berikut berbagai pengalaman saya sebagai mualaf, akan saya taruh di sebuah blog berbeda, nanti...


Blog EntryJan 13, '09 10:19 PM
for everyone

Aku, Kak Haris, Kak Roma.

Kami sering berdebat tentang siapa yang akan menikah lebih dulu.

Dulu, saat membicarakan itu, seakan-akan kami sedang bicara tentang sebuah “kerajaan di negeri antahberantah.” Jauuuh...

            Setiap kali mendengar berita tentang seorang teman (lagi) yang sedang bermasalah dengan pernikahannya, atau bahkan bercerai, aku semakin ketakutan dan berusaha berbalik arah dari “negeri antahberantah” itu. Terlebih ketika mendengar seorang Dewi Lestari mencetuskan sebuah teori baru, “Setiap hubungan pasti ada kadaluarsanya.”  Hmm...

Tapi ternyata hari yang rasanya jauh itu datang juga. Berita datang.

Kak Roma lebih dulu. 28 Februari nanti.

Setelah semalam ngobrol tentang “our bestfriend’s wedding” dengan Kak Haris, aku memutuskan untuk percaya(lagi)pada cinta, dan memberanikan diri menoleh ke arah “kerajaan negeri antahberantah.”...

           

Love is not a mere sentiment. It contains truth, and therefore it is law.

The only perfect love is beyond the personal. If you want to give someone your greatest love, first see beyond that person.

If you want to receive the greatest love, see yourself beyond the person.

Divine love exists.

It only happen when someone take a look at you with her/his eyes of the soul.

Like God, love runs ahead of us. Just when we think we’ve caught up, it slips farther ahead.

But still...no matter how far, the ending is love.

Always.

(taken from Deepak Chopra)

Dedicated to Kak Roma Simanjuntak (Kom UI' 00) & Lisa...

God bless you both...:)


Blog EntryJan 10, '09 1:17 AM
for everyone

Sebuah pesan masuk ke telepon genggamku :

“Tuhan memberkati dan melindungi engkau

Tuhan menyinari engkau dengan sinar wajah-Nya, dan memberi engkau kasih karunia.Tuhan mengarahkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.” Sebarkan ke 16 orang lain. Jangan sampai terputus, maka berkat akan melimpahimu secara tiba-tiba. Jika tidak, maka siap-siap ditimpa kemalangan beruntun.

Pesan serupa sering masuk ke dalam inbox e-mail dan Friendster. Pesannya sih baik-baik saja. Tapi tuntutan untuk mengirimkannya pada 16 orang lain membuat keningku berkerut... Kok jadi seperti teror ya? Dari mana pula muncul angka 16?

Aku menunjukkan SMS itu ke seorang temanku yang kebetulan sedang duduk di sebelahku, “Biasanya SMS seperti ini kau apakan?”

“Aku kirim. Sesuai perintahnya,” jawabnya.

“Kenapa?” tanyaku.

“Kenapa? Ya karena di situ ditulis begitu,” katanya.

“Maksudmu tertulis bahwa harus dikirim, supaya dapat berkat?” tanyaku lagi.

Ia mengangguk.

“Maksudmu kamu percaya jika aku tidak mengirimnya, aku akan celaka?”
Ia mengangguk lagi.

Aku menatapnya heran. Temanku ini tak menyadari kebingunganku.

Jika SMS ini diteruskan dengan semangat ingin membagi berkat, tentu akan kulakukan. Jika angka 16 dimaknai sebagai “sebanyak-banyaknya,” maka aku akan mengirimkannya ke setidaknya beberapa orang yang kukenal. Tidak 16, simply karena aku tak punya banyak pulsa.

Tapi kini aku tak yakin mengapa aku harus mengirimkannya. Yang pasti TIDAK untuk dapat berkat atau takut celaka.

“Jadi? Sudah kamu kirim SMSnya?” tanya temanku, lima menit kemudian.

“Enggak. Aku hapus,” ujarku.

Ganti dia yang menatapku keheranan. Seakan-akan ia khawatir kalau-kalau dalam beberapa detik lagi aku akan kena tulah akibat tak menuruti perintah dalam SMS tadi.

“Kenapa nggak disebarkan aja? Nggak ada ruginya kan? Kalau bener-bener celaka gimana? Kalau dapat berkat ya malah untung kan,” katanya.

Aku mengedikkan bahu. “Semua hal yang akan terjadi padaku, entah itu berkat atau musibah, sama sekali tidak bergantung pada sebuah SMS.”

 

***


Blog EntryDec 23, '08 9:13 PM
for everyone

Perayaan Natal, seperti juga Lebaran, adalah sebuah paradoks. Keduanya adalah perayaan yang rentan kehilangan makna jika orang tidak berhenti sejenak untuk berpikir : untuk apa saya melakukan ini?

 

Esensi puasa, yang antara lain adalah menang melawan hawa nafsu, ternyata tidak berlaku di mall, tempat orang berburu memborong berbagai barang. Seakan lebaran tak pernah ada tanpa semua benda itu. Sedangkan perayaan Natal yang mewah seakan menjadi penegasan bahwa manusia telah gagal meneladani kesederhanaan Yesus, yang dikisahkan lahir di kandang domba, jauh dari kemegahan.

Keberadaaan pohon natal, sinterklas, gemerlap lampu, hadiah, makanan menjadi benda yang mutlak ada dalam sebuah event bernama “natal.” Tak peduli masih adakah “tempat” untuk bayi Yesus; tertimbun berbagai benda, mitos, tradisi, yang sebenarnya nyaris tak ada hubungannya dengan kedatangan Yesus sendiri.

 

Gereja perdana tak pernah merayakan hari kelahiran Yesus (yang memang tak pernah diketahui kapan tepatnya). Natal baru dirayakan pada abad ke-4 saat Romawi, yang masih kental dengan tradisi pagan,  menjadikan 25 Desember (menyambut kembalinya matahari ke belahan bumi bagian utara) sebagai perayaan hari kelahiran Yesus.

 

Setelah lebih dari dua ribu natal berlalu, momen ini harus punya makna baru, jika tak ingin jadi tradisi usang yang hampa atau sekedar ikut-ikutan. Makna yang bisa jadi sangat personal bagi masing-masing orang ; atau setidaknya memeriksa…di mana Yesus di tengah semua keriuhan ini?


Blog EntryNov 18, '08 8:51 PM
for everyone

             Tidak ada agama yang lebih rasional dan simplistis daripada Islam

(Soekarno dalam surat dari Endeh

kepada T.A. Hassan, guru “Persatuan Islam di Bandung, Juli 1935)

 

Saya pikir seumur hidupnya Soekarno hanya bicara tentang marxisme, komunisme, nasionalisme. Tapi ternyata dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi, saya menemukan bahwa dia lebih religius dari yang saya tahu. Intelek yang religius. Perpaduan dua kata sifat ini pada seorang manusia, akan menghasilkan pemikiran-pemikiran cemerlang yang dengan mudah menjawab pertanyaan orang-orang seperti saya, yang sudah sejak lama memendam rasa ingin tahu pada Islam, tapi tak berani mendekat karena keberhasilan media dan segelintir orang menciptakan kesan kejam, kaku, kuno pada agama ini.

Panta Rei

         Panta rei! - kata Heraclitus - segala hal mengalir, segala hal selalu berubah, segala hal mendapat perbaharuan. Dengan pernyataan inilah Soekarno mengawali pemaparannya tentang Islam (yang seharusnya) progresif.

         Jika segala hal berubah, bagaimana dengan agama?

Dalam Pandji Islam, 1940, Soekarno menulis : pokok tidak berubah, agama tidak berubah, Islam sejati tidak berubah, firman Allah dan sunnah Nabi tidak berubah, tetapi pengertian manusia tentang hal-hal inilah yang berubah. Pengoreksian pengertian selalu ada, dan mesti selalu ada. Pengoreksian itulah hakekatnya semua ijtihad, semua penyelidikan yang membawa kita ke lapang kemajuan. Kalau kita tidak mau berijtihad, maka kita sendirilah yang mencekek mati kecerdasan kita dengan cara lambat-lambat.

            Kita sendirilah, kata penulis Essad Bey, ikut berdosa “Schlieszung des Bab el Itschtihad” – sehingga oleh karenanya datanglah keruntuhan segala kehidupan akal, segala kehidupan rohani, segala kebesaran dan kemegahan, segala keadaban dan peradaban. Penutupan pintu ijtihad membinasakan semua peradaban. Dan kita kini mau mengulangi dosa-dosa besar ini? Janganlah kita lekas marah kalau ada orang minta diperiksa kembali sesuatu hal dalam pengertian agama kita.

            Sayid Amir Ali, penulis The Spirit of Islam, yang menjadi fundamental bagi kaum intelektual Eropa dan Asia yang mempelajari Islam, menulis : The elasticity of laws it their great test and this test is pre-eminently possessed by those of Islam. Their compatibility with progress shows their founder’s wisdom.

          Islam bisa cocok untuk semua zaman, kata Amir, adalah karena sifat elastisitasnya. Islam tidak akan bisa bertahan hidup ribuan tahun jika hukum-hukumnya tidak demikian. Ini yang menjadi sebab kultur Islam selalu berubah corak.

Islam itu kemajuan!

        Dengan jujur, Soekarno mengkoreksi perilaku bangsa sendiri : kita royal sekali dengan perkataan “kafir,” kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap “kafir.” Pengetahuan barat – kafir, radio, kedokteran, dasi dan topi, sendok garpu, tulisan latin – kafir. Bergaul dengan bangsa yang bukan Islam pun – kafir. Padahal yang mereka namakan Islam adalah dupa, korma, jubah, dan celak mata! Yang mukanya angker, yang tangannya bau kemenyan, yang matanya dicelak, jubahnya panjang, dan menggenggam tasbih yang selalu berputar – dialah yang dinamakan Islam. Astafirugllah! Inikah Islam? Inikah agama Allah? Cara kuno inilah yang menjadi sebab dunia Barat memandang Islam sebagai satu agama yang anti kemajuan dan sesat.

            Adalah satu perjuangan yang paling berfaedah bagi umat Islam, yakni perjuangan menentang kekolotan. Perjuangan inilah yang dimaksud Kemal Ataturk tatkala ia berkata,”Islam tidak menyuruh orang duduk termenung sehari-hari di dalam mesjid, memutarkan tasbih, tetapi Islam ialah perjuangan. Islam is progress : Islam itu kemajuan!”

Rasio dan Akal

Agama adalah bagi orang yang berakal, demikian Nabi bersabda. Kenapa sesuatu hal harus digaib-gaibkan kalau akal sedia menerangkannya? Kata-kata Soekarno ini menguatkan argumen bahwa motor hakiki dari semua “rethinking of Islam” adalah kembalinya penghargaan kepada akal. Allah sendiri dalam Quran berulang-ulang memerintahkan kita berbuat demikian, “Apa sebab kamu tidak berpikir,” “Apa sebab kamu tidak menimbang,” “Apa sebab tidak kamu renungkan.”

             Jangan akal, pikiran, reason, rasionalisme dienyahkan dari dunia keagamaan, diganti dengan “percaya saja,” “terima saja,” begitu katanya. Akal diganti dengan otoritas, aktivitas rohani diganti dengan penerimaan rohani. Akal kadang tak mau menerima Quran atau Hadits shahih, bukan karena Quran dan Nabi salah, tapi oleh karena cara kita mengartikannya adalah salah. Rasionalismelah yang dapat mengakurkan pengertian fiqh dengan peredaran zaman.

              Tanyalah kepada ribuan orang Eropa yang masuk Islam di dalam abad 20 ini, dengan cara apa dan dari siapa mereka mendapat pengetahuan baik dan bagusnya Islam, dan mereka akan menjawab : bukan dari guru-guru yang hanya menyuruh muridnya “beriman” dan “percaya saja.” Bukan dari mubaligh-mubaligh yang tarik muka angker dan hanya tahu putar tasbih saja, tapi dari mubaligh yang memakai cara penerangan yang masuk akal – karena berpengetahuan umum, mubaligh modern & scientific, bukan mubaligh yang “à la Hadramaut” atau “à la Kjai bersorban.”

               Percayalah bahwa jika Islam dipropagandakan dengan cara yang masuk akal dan up to date, seluruh dunia akan sadar kebenaran Islam. Saya sendiri sebagai seorang tepelajar baru mendapat lebih banyak penghargaan kepada Islam sesudah membaca buku-buku Islam yang modern & scientific.  

Preach Islam !

       Kepada T.A. Hassan, Soekarno juga menyerukan pentingnya dakwah, penyebaran Islam, tanpa memandang negatif penyebaran agama yang dilakukan umat agama lain :

Saya sendiri banyak bertukar pikiran dengan kaum pastor di Endeh. Tuan tahu, bahwa pulau Flores itu adalah “pulau misi” yang mereka sangat banggakan. Dan memang pantas mereka banggakan pekerjaan mereka di sana. Saya sendiri melihat mereka bekerja mati-matian untuk mengembangkan agama mereka di Flores. Saya respect dengan pekerjaan mereka.

Kita banyak mencela misi, tapi apakah yang kita kerjakan bagi menyebarkan agama Islam dan memperkokoh agama Islam? Misi mengembangkan Katolik Roma itu hak mereka, yang tak boleh kita cela dan kita gerutui. Tapi kita, kenapa kita malas, kenapa kita teledor, kenapa kita tak mau kerja, kenapa kita tak mau giat? Kenapa misalnya di Flores tiada seorangpun mubaligh Islam dari suatu perhimpunan Islam yang ternama buat mempropagandakan Islam di situ kepada orang kafir? Misi dalam beberapa tahun saja bisa mengkristenkan 250.000 orang kafir di Flores, tapi berapa orang kafir yang bisa dihela oleh Islam di Flores itu? kalau dipikirkan memang itu semua salah kita sendiri, bukan salah orang lain!

Puluhan Tahun Setelah Soekarno

       Tahun 2001 dan 2002, tujuhpuluh tahun setelah tulisan Soekarno di atas, apa yang ia khawatirkan benar-benar terjadi : terorisme. Meski demikian, memang terorisme dan fundamentalisme tak semata-mata berasal dari kurangnya ijtihad dan peran akal dalam masyarakat Islam. Fundamentalisme juga adalah anak modernisme, kata Karen Armstrong. Sementara aktivis gerakan sosial dan feminis Asia, Kamla Bhasin, menyatakan bahwa fundamentalisme dan konservatisme agama tumbuh karena ketidakamanan ekonomi dan kultural. Terorisme global dan berbagai bentuk fundamentalisme tak bisa dipisahkan dari globalisasi ekonomi.

            Above all, karena hidup di zona aman (tanpa perang, relatif lebih sedikit diskriminasi dan intimidasi, dan bahkan menjadi warga mayoritas), saya pikir sudah menjadi PR besar bagi muslim Indonesia untuk menginspirasi, jihad akal seperti Soekarno, untuk membuat kemajuan bagi kesejahteraan umat Islam sendiri, dan bagi dunia.


Blog EntryOct 30, '08 9:57 PM
for everyone

"Yahudi telah dan selalu akan menjadi orang pilihan!"

(kata-kata Peter van Daan dalam percakapannya dengan Anne Frank)

Bagi saya, di muka bumi ini tidak ada bangsa yang lebih misterius daripada Yahudi. Membaca tentang mereka, ternyata mengundang berbagai rasa di saat yang berbeda. Membaca tentang kaum ini dalam Holy Qur’an dan Holy Bible akan mendatangkan rasa kesal.

Tapi siapapun akan sedih dan iba saat mengetahui bagaimana Nazi membantai jutaan dari mereka, (sekaligus juga membuat saya marah dan berteriak dalam hati,"Hell for Hitler!")

Namun Yahudi juga mendatangkan decak kagum, karena membaca sejarah Ras Semit ini berarti juga membaca kisah kecerdasan manusia. Einstein dan Anne Frank baru dua dari ribuan bukti keberadaan otak-otak jenius ini.

Anne Frank adalah catatan tersendiri kehebatan mereka. Membaca The Diary of Anne Frank membuat saya mengerti bagaimana mereka bisa sebrilian itu. Lebih jauh, diary ini membuat saya terkagum-kagum akan keberanian dan kekuatan manusia menghadapi penderitaan.

Semua orang Yahudi di seluruh daratan Eropa, terutama di Jerman dan Belanda saat itu tahu bahwa hanya tinggal menunggu waktu saja masing-masing dari mereka akan mati disiksa. Cepat atau lambat.

Selama dua tahun, dibantu dua warga Belanda, Miep Gies dan Elisabeth Voskuijl, Keluarga Yahudi Frank dan van Daan, bersembunyi di sebuah tempat yang dinamakan Anne : The Secret Annex. Namun kehidupan mereka dalam persembunyian itu sama sekali tidak menampakkan tanda seakan-akan mereka sedang bersiap-siap menghadapi kematian. Setiap hari mereka berbicara tentang apa saja yang akan mereka lakukan setelah perang berakhir. Dan karena optimisme itu mereka semua menghabiskan waktu dalam Secret Annex dengan...belajar!

Dalam diary-nya, Anne menceritakan apa saja yang ia pelajari dalam sehari :

Menerjemahkan bagian satu bagian peperangan terakhir Nelson dari bahasa Belanda ke Inggris. Membaca lagi Perang di Utara yang melibatkan Peter Agung, Charles XII, Stainslaus Leczinsky,... Lalu berpindah ke Brazil, aku akan membaca tembakau Bahia, kopi yang melimpah, 1,5 juta penduduk Rio de Janeiro, dan terakhir Sungai Amazon. Selanjutnya tentang suku Negro, Mulatto, tingkat buta huruf tinggi, dan malaria. Karena masih memiliki waktu, aku mengamati diagram silsilah : John the Old, Henry Casimir I, William Louis...

Jam 12 : merangkum hasil belajarku, membaca mengenai para tetua, pendeta, menteri, dan wow...ternyata sudah jam satu. Berikutnya tentang Bible, kapal Nabi Nuh, Shem, Ham, dan Japheth. Berpindah lagi ke buku tes kemampuan bahasa Perancis, lalu berpindah lagi ke tema perbandingan antara Mississippi dan Missouri.

Malamnya membaca biografi Galileo Galilei, buku itu sudah harus dikembalikan ke perpustakaan. Lalu Palestine at the Crossroad.

Dan ini adalah hal-hal yang ia catat sebagai minatnya :

Stenografi Perancis, Inggris, Jerman, dan Belanda, sejarah, geografi, sejarah seni, sejarah Injil, sastra Belanda, mitologi Yunani dan Romawi, buku-buku sejarah, biografi, juga novel dan bacaan ringan.

Semua itu ia pelajari saat ia berusia 13 – 15 tahun!

Ah! Membuat saya malu karena sudah setua ini tapi saya hanya tahu sedikit-sedikit, belajar sedikit, dan akhirnya mengerti sedikit.

4 Agustus 1944 kedelapan penghuni Secret Annex ditangkap dan dipisahkan satu sama lain. Ada yang meninggal di kamar gas, sementara yang lain meninggal karena kelaparan dan kelelahan di kamp konsentrasi. Anne Frank meninggal karena epidemi tifus di kamp Bergen-Belsen, Hannover pada Februari 1945, pada usia 15 tahun.

Saya bertanya-tanya apakah pada akhirnya semua yang dipelajari dan ditulisnya berakhir sia-sia.

Tidak!

Gadis Yahudi 15 tahun itu telah ikut mengubah dunia. Ia adalah satu dari 100 Tokoh Abad Ini versi Majalah Times. Catatan harian Anne Frank telah terjual lebih dari 30 juta eksemplar dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 60 bahasa. Menjadikannya buku nonfiksi yang paling banyak dibaca di dunia setelah Injil. Tulisannya adalah salah satu rekaman paling jujur tentang sisi-sisi gelap kemanusiaan yang tak pernah bisa dicari landasannya kecuali napsu untuk berkuasa.


Blog EntryOct 15, '08 6:17 AM
for everyone
“Waktu itu saya ikut pasukan berani mati. Bukan karena alasan ini itu. Semata-mata karena saya ingin negara Indonesia ini tetap ada!” kata Wang Zhongming.

Klenteng Eng An Kiong sudah berdiri sejak 1825, jauh sebelum gereja dan masjid pertama didirikan di Malang. Tapi baru beberapa hari lalu saya menjejakkan kaki di sana, mengikuti Om Eka dan Melanie Budianta, teman ayah yang akan mewawancarai beberapa warga keturunan Tionghoa di sana. Tak menyangka bahwa perjalanan iseng itu menjadi sebuah pengalaman yang memperkaya jiwa. Sebuah dunia lain yang bercerita bahwa harusnya tak ada lagi sebutan “pribumi” dan “keturunan.”

Wang Zhongming adalah seorang kakek keturunan Tionghoa kelahiran 1924 yang masih gagah berjalan dan lantang berbicara. Selain sang kakek, dalam ruangan ada juga beberapa bapak lain yang lebih muda, tapi yang jelas lebih sepuh dari ayah saya. Para pengikut Buddha ini bercerita tentang masa lalu. Tentang berhentinya kegiatan perkumpulan kesenian Ang Hien Hoo, tempat mereka bernanung, karena dituduh sebagai antek PKI.

Tahun 1965 memang masih dan akan selalu menjadi masa kelam dalam sejarah Indonesia. Berbicara tentang tahun itu ternyata memunculkan kemarahan, terlebih dari pelaku sejarah yang hidupnya saat itu benar-benar terancam. “Kamu orang sekarang, jangan pernah menebak apa yang terjadi saat itu!” hardik Wang Zhongming pada Pak Waluyo, yang mencoba menjelaskan tentang apa yang terjadi di 1965. Pak Waluyo lebih muda 20 tahun dari kakek Wang.

Seorang bapak lain yang jauh lebih muda bercerita tentang sejarah etnisnya di tanah Jawa. “Nenek moyang saya datang ke kepulauan ini tahun 1600. Memang saat itu sebagai orang asing. Tapi sebenarnya siapa sih yang bisa dibilang asli? Almarhum ayah saya semangat sekali mengajak orang-orang ikut main wayang orang dan liong. Dia juga mendalami kebatinan Jawa.” Matanya yang sipit mengerjap. Di akhir pertemuan, saya baru tahu ternyata namanya Pak Ragil (bahasa Jawa untuk bungsu).

Saat diajak berkeliling klenteng, saya takzim melihat betapa tempat itu lebih dari sekedar tempat ibadah. Ada balai pengobatan, pelayanan untuk lansia, pendidikan bahasa Mandarin, dan balai kesenian. Bahkan liong & say serta karawitan punya divisi sendiri dalam kepengurusan. Tempat pertemuannya begitu besar. Di situ untuk pertama kalinya saya melihat seperangkat gamelan paling megah dan paling lengkap yang pernah saya lihat! Semua itu dalam sebuah area klenteng.

Di hari yang sama kami beruntung boleh bertemu dengan saksi sejarah yang lain. Seorang nenek. Saya lupa namanya, tapi ingat betul tahun kelahirannya : 1913. Jadi usianya 95 tahun! Orang tertua yang pernah saya temui seumur hidup saya! Bagaimana rasanya hidup selama itu? Yang menakjubkan, ingatannya masih begitu kuat, berbicara dengan cukup lancar dan mendengar dengan baik. Sang nenek dulunya adalah pemain wayang orang. Saya sempat melihat foto salah satu pertunjukannya yang begitu sesak dipenuhi pengunjung. Beliau pasti sangat terkenal saat itu. Uniknya ketika ditanya berapa honor yang ia peroleh sekali pentas, sang nenek menjawab, “Ndak dibayar kok!” Bagaimana mungkin ia melakukan peran sesulit itu, dari kota ke kota, tanpa bayaran?
Pada bagian belakang foto tertulis tahun pertunjukan : 1962. Saat itu tak satu pun orang dalam foto itu yang tahu bahwa 3 tahun kemudian kesenian itu akan dilarang.  

Ada juga sosok lain, Dani, yang adalah keturunan Tionghoa, “wakil” dari generasi muda. Dia baru menyelesaikan studi S2-nya di China, dikirim oleh pihak yayasan Eng An Kiong supaya kemudian ia bisa mengajar bahasa Mandarin. Disertasinya adalah tentang persepsi kaum muda Indonesia (keturunan Tionghoa) di China tentang keberadaan mereka dan rasa kebangsaan terhadap Indonesia. Dani bercerita bahwa bagaimanapun kaum muda keturunan menganggap tak ada lagi yang mereka sebut sebagai “tanah air” selain Indonesia. Jika seandainya ada perang antara Indonesia dengan China, mereka pasti akan memilih membela Indonesia. No doubt.

Saya jadi ingat atlet-atlet bulutangkis Indonesia yang kebanyakan juga merupakan warga keturunan Tionghoa.
Betapa berdosanya masih menyebut mereka sebagai warga “keturunan,” dan kamilah “yang asli.” Hanya karena budaya dan ciri-ciri fisik mereka berbeda dengan orang Indonesia kebanyakan. Perkara sepak terjang di dunia bisnis, apa pula masalahnya jika kita mau belajar dari mereka?

Nama jawa, karawitan, wayang orang, pasukan berani mati, bulutangkis... lama kelamaan saya bertanya-tanya...sebenarnya siapa yang lebih Indonesia di antara kami?

Blog EntryOct 9, '08 12:24 AM
for everyone

Di desa, di kota, di seluruh belahan dunia, manusia berlomba-lomba memiliki tanah, simbol kekayaan. Apalagi sekarang, ketika bumi sudah semakin sesak sementara tanah tidak bertambah.

Orang berlomba-lomba mematok dan melabeli tanah dengan namanya. Seluas-luasnya. Sebanyak mungkin.

Di mana pun. Terutama di tempat strategis.

Untuk warisan, untuk membangun rumah, untuk dijual/disewakan lagi, untuk dihadiahkan.

Tak tahu sampai sebanyak apa sehingga bisa dikatakan “cukup.”

Mengingatkan saya pada pertanyaan Leo Tolstoy dalam salah satu cerpennya :

Berapa sebenarnya luas tanah yang diperlukan seorang manusia?

Jawabannya, cukup untuk membangun satu rumah saja :

Rumah masa depan. Letaknya jauh dari strategis.

Kalau bisa sejauh mungkin dari pusat kota

(kecuali kau seorang yang menurut dunia cukup hebat untuk dikategorikan sebagai “pahlawan.”)

Bukan rumah bagi jiwa atau roh, tapi hanya bagi tubuh manusia yang akan segera kembali menjadi debu.

Saat itulah orang baru mengerti bahwa ternyata pada akhirnya seorang manusia hanya memerlukan tanah sepanjang ukuran badannya.

Hanya seluas itu.

 

(PS : Tubuh manusia bahkan masih berebut tempat setelah mati. Terakhir datang ke rumah masa depan, saya mendapati pemakaman sudah semakin sesak. Nisan saling bertabrakan. Kuburan bertumpuk di atas kuburan lain. Membujur, melintang.

Melihat pemandangan itu, Budhe saya yang seorang Hindu berkata sambil tersenyum, “Nanti aku nggak akan menuh-menuhin tempat ini kok!” Saya ikut tersenyum sambil mengingat upacara kremasi Pakdhe yang telah lebih dulu kembali ke Sang Pemilik Hidup. Debu kembali menjadi debu)


Blog EntrySep 26, '08 12:48 AM
for everyone

Saya kristen. Tapi hampir tak pernah memakai aksesoris apapun berbentuk salib atau bergambar sosok tertentu. Semata-mata karena tidak ingin mengecilkan arti seorang kristen. Toh sebuah simbol yang bertujuan menyampaikan pesan tertentu akan segera kehilangan makna ketika si penyampai pesan berperilaku berlawanan dengan isi pesan. Mafia dan pemadat juga memakai kalung salib. Mungkin agar terlihat keren. Mungkin juga memang di KTP mereka tertulis kristen atau katolik. Terserah mereka lah.

Selain itu, tidak seperti orang suku lain yang dengan mudah bisa diidentifikasi dari nama marga atau ciri-ciri fisiknya, orang sering salah menebak saya dari suku apa. Biasanya yang paling sering disebut adalah Indonesia timur. Tak apa juga kan kalau mereka berpikir begitu.

Orang tak pernah benar-benar tahu siapa saya sebelum mereka bertanya sendiri.

(maka orang tak pernah berhak menghakimi siapapun sebelum benar-benar mendekat dan berdialog).

Agustus lalu saya mengikuti sebuah kegiatan anak muda di Jawa Tengah. Setelah saling mengenal, dengan segera saya akrab dengan seorang pemuda yang ternyata mahasiswa jurusan Tafsir Quran. Saya katakan “ternyata” karena ia sama sekali tidak menampakkan atribut-atribut tertentu seperti layaknya orang yang fokus mempelajari ajaran agama. 

Awalnya saya ketakutan ketika dia bertanya, “Mbak nasrani ya?” Tetapi ternyata kekhawatiran saya sama sekali tidak beralasan. Pembicaraan-pembicaraan panjang terjadi. Tentang apapun. Keyakinan, keluarga, Tuhan, tradisi, negara. Saling memperkaya, dan tanpa tendensi. Sesekali saya ikut mendengarkan lantunan ayat Qur’an dari MP3-nya, meski tak mengerti artinya. Dengarkan saja kata dia.

Sampailah rangkaian kegiatan pada hari Jumat. Hari pendek. Hari ibadah. Yang muslim sholat Jumat, dan yang kristen persekutuan doa bersama.

Saat berkumpul, seorang teman kristen yang tak menduga keyakinan saya sama dengannya, kaget melihat saya ikut bergabung. “Oh, Mbak Kristen?” katanya.

Saya hanya tersenyum. 

Menjelang selesai acara, ahli tafsir yang kemudian menjadi sahabat baru saya itu bercerita :

“Tadi ada teman yang nyangka aku bukan muslim lho!Karena kita sering keliatan ngobrol bareng, dia pikir aku juga kristen.”

“Oya?!” kata saya. Lucu juga. Teman lain juga berpikir demikian tentang saya.

Dan kami tertawa.

Laughter ... the shortest distance between two people. 

Ketika orang-orang yang sebenarnya sangat jauh berbeda latar belakang bisa berbagi dan tertawa bersama...saya pikir berita-berita di televisi tak akan riuh dengan pertengkaran antarkelompok manusia.




Blog EntryAug 27, '08 5:13 AM
for everyone

 Jika pohon terakhir telah ditebang, ikan terakhir telah dipancing, dan sungai terakhir telah kering...Saat itulah mereka baru sadar bahwa manusia tak bisa makan uang.                     (GreenPeace)

Wall E adalah sebuah film animasi produksi Walt Disney yang bintang utamanya hanya dua orang...bukan orang...dua robot pengurus sampah. Settingnya sekitar tahun 2810. Sampah sudah jadi gundukan-gundukan setinggi gedung WTC. Kadar racun di bumi sudah terlalu tinggi dan tak layak huni sehingga manusia mengungsi dan tinggal di luar angkasa. Kecanggihan teknologi (yang katanya bertujuan memudahkan segala sesuatu) membuat hidup manusia terlalu mudah sehingga mereka hanya tinggal duduk di sebuah kursi dan tinggal memencet salah satu tombol jika ingin makan, pindah tempat, belanja. Mereka bahkan tak perlu berjalan sehingga badan penghuni-penghuni luar angkasa ini semakin hari semakin gemuk. Mata mereka tak lepas dari layar hologram yang terpampang di hadapan mereka kecuali saat mereka tidur. Semua berkomunikasi virtual sehingga nyaris tak ada orang yang pernah benar-benar berinteraksi dan melakukan kontak fisik satu sama lain.

Tak ada dari mereka yang benar-benar mengenal bumi, tempat tinggal nenek moyang mereka dulu. Bumi yang hijau dengan langit dan laut biru hanya jadi sebuah replika dan gambar masa lalu. Konflik bermula ketika Wall E, sang robot pemadat sampah, menemukan sebuah tanaman di bumi. Satu-satunya tanaman yang tersisa.


Ekstrim memang.


Tapi setelah selesai menonton, saya jadi berpikir apakah beberapa hal dalam film itu benar-benar akan terjadi. Apakah tanpa saya sadari, semua orang, termasuk saya, memang sedang menghancurkan bumi perlahan-lahan. Ketika saya berjalan ke luar bioskop dan mengamati sekeliling, memang tak nampak satupun tanaman di mall. Yang ada hanya tanaman plastik. Sungguh sebuah penghinaan atas nama kepraktisan bagi tanaman yang hidup dari air dan tanah. Hanya sejumput rumput hijau di halaman luar. Seakan dipaksakan ada di antara himpitan beton.

Tentang manusia dan sampah...tak perlu diragukan kebenarannya. Di Jakarta, sepertinya setiap 15 menit sekali saya melihat orang-orang, tua muda, baik sarjana maupun lulusan SD, keluar dari Jaguar ataupun turun dari bajaj...membuang sampah seenak jidat.

Tentang manusia dan gaya hidup...indikasi bahwa manusia hanya akan menghabiskan waktu dengan duduk dan terpaku pada layar hologram di hadapan mereka sudah tampak pada...diri saya sendiri. Jika saya hidup hanya untuk bekerja...mungkin berjalan ke kamar mandi adalah satu-satunya “olahraga” yang saya lakukan.

Indikasi yang lebih potensial tampak pada seorang teman saya yang tinggal di sebuah apartemen di Slipi. Ia sudah berkeluarga dan dikaruniai seorang bayi. Keluarga yang kaya dan sukses di mata sebagian besar orang Jakarta. Namun di sisi lain, di mata saya, hidupnya tak lain adalah perpindahan dari kotak berAC satu ke yang lain. Dari kamar apartemennya, ke mall yang menempel langsung dengan apartemen, lalu ke mobil berAC yang akan mengantarkannya ke kantor dan tempat-tempat berAC lain, temasuk gereja.

Jadilah...sarapan atau menjamu tamu di Starbucks, makan siang di Solaria, makan malam di Hanamasa.

Ketika saya berkunjung ke sana dan ditemui di Starbucks, ia mengajak serta bayinya dalam sebuah kereta dorong. Sementara kami ngobrol, babysitter menyuapi si anak sambil mengajaknya berkeliling mall. Mall memang sudah jadi taman bermain bagi siapapun. Taman bermain penuh label harga.

Entah bagaimana hidup si kecil di masa yang akan datang. Mungkin dia akan shock jika suatu saat diberi kesempatan melihat hamparan sawah tempat nasi yang setiap hari ada di piringnya berasal, atau bentuk sapi yang sebenarnya sebelum jadi steak yang ia makan.


PS : This is why saya ingin pulang kampung untuk sekedar lebih menjadi...manusia. Manusia yang kenal dan menyejahterakan bumi... Bisa naik sepeda di pagi hari tanpa takut terserempet si Xenia, si Baleno, atau si Altis. Dengan gembira menanami tanah dengan bibit tanaman organik, yang mungkin akan segera jadi benda langka. Bukankah itu sebuah kemewahan?



NoteSilakan Mampir =)
   
ivannashop wrote on Jan 26, '11
numpang promo y sis.. :)

GREAT SALE!!
IVANNA SHOP g cuci gudang loh..
d cek yuk album fto ny..
banyak CD,BRA n LINGERIE MURAH.. :D

bruan cek d http://ivannashop.multiply.com//
dinantonia wrote on Jan 15, '10
Rin, kabar baik... Lu gimana? Mana tulisanlu? Like your credo :) Gue sekarang ngajar jadi guru SD. Lu sibuk apa sekarang? Btw udah married, ya?? Wah, ga ngundang2 :) hueheu
yoristacollections wrote on Jul 7, '09
Allow Semuanya Kini Sepatu n tas Lukis "YORISTA COLLECTIONS" TURUN HARGA MENJADI LEBIH MURAH LHO ^_^



DAN ADA YANG BARU DARI "YORISTA COLLECTIONS"
^_^

TAS LAPTOP LUKIS dan KAOS LUKIS "YORISTA COLLECTIONS'"

PASTINYA BISA CUSTOM DESIGN LHO ^_^

APALAGI SEKARANG ADA SEPATU LUKIS UNTUK ANAK-ANAK

MULAI DARI UKURAN 26 SAMPAI DENGAN 30 LHO ^_^


"YORISTA CoLLectionS"

http://yoristacollections.multiply.com/

Menjual Sepatu Lukis, Tas Lukis, Tas Laptop Lukis, Kaos Lukis dan Dompet Lukis (HAND MADE), Dengan Design Bisa Dari Temen-Temen Lho (CUSTOM), Jadi Design Bisa Sesuai dengan Keinginan Temen-Temen Semua dan Cuman Kamu Yang punya Lho... Yang Pasti Kerennn Banged, Unik dan PAstinya Murahhhh....Dan Pastinya Bisa NEGO....^_^

Sepatu Lukis ini Catnya Waterproff (Anti Air) Jadi Sepatu ini Bisa Dicuci dan Ga Luntur...dan Cat yang digunakan untuk Melukis di Sepatu Lukis dan Tas Lukis ini masih Import Dengan Kualitas Baik ^_^

Design-Design Sepatu n Tas Lukis Ini akan Selalu Di UPDATE Yah.. Jadi Sering-Sering Main ke Site Saya Yah...^?^

Photo Flipbook Slideshow Maker


Photo Flipbook Slideshow Maker
Glitterfy.com - Photo Flipbooks

KALAU ADA PERTANYAAN dan MAU ORDER BISA VIA PM, SMS / TLP di...
Contact Person TyaRa (021) 9296-9858 / 0816-192-111-5



BISA JUGA VIA Email / YM :

sepatu_tas_lukis@yahoo.com atau p_flasher@yahoo.com




*** SELAMAT BERBELANJA TEMAN-TEMAN dan TERIMA KASIH ***
envyslim wrote on May 5, '09
Cantik adalah hidup apa adanya, bangga menjadi diri sendiri, bisa menerima segala kekurangan orang lain. selalu mensyukuri karuniaNya
http://www.envyslim88.blogspot.com ; http://www.envygirdle88.blogspot.com
Pages:123